Beranda Hukrim Pengakuan Pekerja Tambang Emas Illegal Wasirawi, Sebut Besaran Gaji Hingga Setoran

Pengakuan Pekerja Tambang Emas Illegal Wasirawi, Sebut Besaran Gaji Hingga Setoran

540
0

Ringpapua.net — Aktifitas penambangan emas illegal di sejumlah titik di Kabupaten Manokwari, Pegunungan Arfak dan Kabupaten Tambrauw diduga masih berlangsung hingga saat ini.

Berapa sih gaji mereka hingga tergiur ikut kolompok penambangan dan berani menantang hukum yang berlaku ?

Dari hasil investigas media ini, didapati bahwa hasil penambangan yang melimpah menjadi salah satu alasan para pekerja berani melakukan aktifitas melanggar hukum.

Pekerja salah satu kelompok penambang yang ditemui di lokasi tambang emas Wasirawi, Distrik Masni, mengungkapkan bahwa besar pendapatan karyawan tergantung pada hasil mengumpulan emas yang didapat dalam satu bulan kerja.

“Penghasilan kita itu 6 persen dari berapa banyak emas yang terkumpul selama satu bulan kerja, sedangkan 4 persen untuk logistrik dan setoran,” ungkap seorang pekerja tambang yang mengaku bersama dua kelompok lain yang juga satu bos besar dengan kelompok mereka.

“Koordinator pemodal tambang juga ada mas. Bos bos kita ada koodinatornya,” tambahnya, sembari tak mau menyebutkan siapa namanya.

Aktifitas penambangan emas illegal di Wasirawi, Distrik Masni yang tertangkap kamera. (Foto: DTM/RP)

Lanjut dia, dalam sebulan bisa didapati paling sedikit 5 KG emas dengan harga jual per satu gramnya mencapai Rp 650.000 – Rp 700.000. Silahkan dihitung pendapatan sebulan per satu kelompok penambang yang jumlahnya terdiri dari 10 – 12 orang itu.

Dia mengungkap, hasil kerja selama satu bulan itu akan dikumpul oleh seorang pengawas untuk dibawa turun dari lokasi tambang, diserahkan kepada 01 (Bos sebagai pemodal).

“Selama bekerja, kita tidak bisa turun dari lokasi, kecuali ada perintah dari 01. Hanya pengawas yang turun bawa hasil dan nanti dia balik lagi sekalian bawa upah dan logistrik,” ungkapnya.

Aktifitas pengambilan emas kata dia dilakukan dengan pembagian sift. Dia dan juga karyawan lainnya tidak bisa mengambil emas karena pekerjaa mereka selalu diawasi.

“Jadi kalau kita mau cari ongkos rokok, kita dulang manual di luar sift. itu untuk pake bayar akses WIFI atau beli rokok kalau logistik menipis,” terangnya.

Longboat tumpangan favorit penambang emas Wasirawi yang terparkir di bantaran kali Wariori. (Foto: DTM/RP)

Dia mengaku ingin turun dari lokasi kala itu. Sayangnya, aturan berbeda diterapkan oleh setiap pemilik kelompok tambang.

“Kalau tidak ada perintah turun lalu kita turun lokasi, itu sudah tidak bisa naik lagi, langsung diganti orang lain,” ungkap pekerja yang mengaku sudah 3 bulan dilokasi pekerjaan itu.

“Kalau balik pun kita tidak bisa sendiri. Jalan jauh ke muara bisa 3 jam, terus nail longboat lagi 2 jam. Kalau naik helikopter cepat saja, tapi 2 juta per orang,” bebernya.

Diketahui, akses menuju titik penambangan di Wasirawi memang terjal. Jika menggunakan longboat, satu orang dipatok harga Rp 700.000 – Rp 1.000.000. Mereka akan menyusuri kali wariori selama 2 jam untuk sampai di muara kali dan berjalan ke lokasi kerja (Jika hendak naik bekerja) atau berjalan kaki menuju muara dan menggunakan longboat ke kali Wariori untuk menuju ke wilayah padat pemukiman di Distrik Masni maupun Distrik Prafi.

(DTM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here